Kamis, 24 April 2008

Climate Change dan Kita

Sangat memprihatinkan memangamati musim pada dua tahun terakhir ini. Jika dulu kita selalu berpatokan pada dua musim yang sudah berpola secara baku, yaitu April - Oktober adalah musim kemarau dimana kita tidak perlu merepotkan diri dengan perlengkapan hujan dan Oktober - April adalah musimnya hujan dengan puncak antara Desember dan Januari, maka saat ini kita dihadapi ketidakpastian. Musim apakah saat ini? Sangat tidak jelas karena sepanjang tahun diwarnai hujan, bahkan guyuran hujan deras diwarnai petir. Yang lebih membingungkan adalah jika hari ini hujan, maka esok hari kita akan disengat panas matahari yang terik. Dan kita akan dibuat semakin bingung dengan kondisi seperti ini : pagi matahari akan menunjukan garang sinarnya, tiba-tiba dalam hitungan menit hujan mengguyur deras, tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyiapkan diri. Kita hanya bisa termangu!

Fenomena apakah ini?

Banyak ahli terutama ahli lingkungan hidup, yang di Barat sana disebut sebagai tokoh environmentalist, meyakini semua itu merupakan bagian dari perubahan iklim atau climate change yang gaungnya sudah dilontarkan beberapa tahun silam. Perubahan iklim ini tidak dapat dipisahkan dari terjadinya pemanasan global atau Global Warming. Sampai disini, banyak pihak dan kelompok yang saling menuding dan menyalahkan sebagai biang kerok terjadinya Global Warming. Negara-negara maju, terutama AS, dinilai sebagai negara yang paling bertanggung jawab karena memberikan kontribusi terbesar pada Global Warming, diantaranya dengan memberikan andil pada sumber-sumber pencemaran lingkungan yang mengakibatkan terjadinya malapetaka yang dihadapi bumi saat ini. Tentu saja, negara-negara yang hutannya dibiarkan gundul dituding ikut bertanggung jawab. Bagaimanapun banyak kalangan yang beranggapan hutan adalah paru-paru-nya bumi.

Masalahnya adalah mengapa ini bisa terjadi. Kita mengetahui bahwa konvensi PBB mengenai lingkungan hidup sudah digelar pada tahun 1972 dan menuntut komitmen negara-negara untuk paling tidak memperhatikan lingkungan hidup mereka. Segala cara, mulai dari penyuluhan dan seminar, digalakan oleh para pakar agar setiap komponen masyarakat menyadari pentingnya arti lingkungan hidup bagi umat manusia. Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development digembar-gemborkan sebagai konsep jitu di dalam melakukan pembangunan dan setiap stake holder negara dituntut menganut dan menjalankan konsep ini. Konvensi-konvensi internasional dibawah naungan PBB maupun forum-forum berkelas dunia diselenggarakan untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Banyak tokoh dan lawyer berbicara lantang tentang masalah ini. Tokoh paling terkemuka yang tahun lalu baru saja menerima Nobel Perdamaian karena kegigihannya memperjuangkan lingkungan hidup, Al Gore, yang tidak lain adalah mantan Wapres AS dan tokoh panutan di negeri Paman Sam tersebut, adalah contoh birokrat (mantan birokrat) yang peduli pada permasalahan yang dihadapi bumi. Tokoh penting lain yang patut mendapatkan apresiasi tinggi karena dedikasinya adalah Robert F. Kennedy, Jr. yang memiliki keberanian menentang kekuasaan dan anggota keluarga Kennedy yang legendaris tersebut.

Tetapi, kembali kita bertanya mengapa dengan semua itu kerusakan lingkungan hidup tetap terjadi? Bahkan di AS sendiri, tokoh sekaliber Al Gore yang memiliki pengaruh kuat dan Robert F. Kennedy, Jr. yang memiliki keberanian besar tidak mampu mencegah negaranya menjadi kontributor pencemaran terbesar. Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Sebuah pertanyaan besar dan menuntut jawaban besar, "Apa yang bisa kita lakukan untuk memulihkan kondisi bumi?"