Senin, 16 April 2012

Negeri Yang Terkoyak

Negeri Yang Terkoyak
Negeri ini terkoyak tercabik-cabik, menyisakan banyak tanya
Negeri ini negeri yang asing bagiku, dan tidak sama seperti dulu
Dulu orang bilang penguasa adalah tirani bertangan besi,
yang mengekang demokrasi dan mengunci ekspresi
Tapi kini semua bisa menjadi tiran, berbuat sesuka hati
Ekspresi sudah melewati batas budi pekerti
Opini bukan lagi buah pikiran dan intelektualitas diri,
tapi menjadi alat negosiasi dan kepentingan sendiri
Suara mereka adalah suara rakyat katanya,
tapi aku mau tanya rakyat yang mana?
Suara rakyat adalah suara Tuhan, begitu ucapannya
Ehhh bung, kalau rakyatnya berdusta, berzina dan berdosa yang lain,
masihkah kau mau menyebutnya suara Tuhan...????
Aksimu beralaskan demokrasi, dan berbajukan penderitaan rakyat,
Ironinya tingkahmu bagai preman jalanan
Fasilitas yang dibangun dengan uang rakyat kau rusak dan hancurkan
Lantas penguasa kerdil negeri ini membangunnya kembali dengan uang rakyat
sungguh ironi bukan
seharusnya biaya itu bisa digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat
Negeri ini sekarang kacau balau
Malu dan sedih aku melihat keadaan yang seperti ini
Demokrasi kehilangan jejak langkahnya
Hak asasi hanya menjadi alat politisasi
Kini negeri ini semakin jauh dari tujuannya
Seperti kapal yang berlayar tak tentu arah,
karena nahkoda-nya tidak mengerti alat navigasi
Negeri ini memang tidak memiliki pemimpin sejati
Pemimpin yang mampu memimpin, punya jiwa demokrasi
Pemimpin yang jujur dan amanah, dan tidak menutupi
Pemimpin yang melihat apa mau rakyatnya, dan berani bersikap pasti
Akankah negeri ini dipimpin pemimpin itu
Sayangnya aku tidak tahu, karena semuanya membuatku ragu


Jakarta, 16 April 2012