Senin, 16 Maret 2009

Obama, Krisis Ekonomi Dunia dan Perubahan

Oleh : Sandi Suwardi

Pada saat kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat 2008 lalu, Barack H. Obama yang saat itu Senator dari Partai Demokrat gencar menyuarakan janji perubahan dan meyakinkan jutaan pemilih bahwa rakyat Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Singkat kata, Barack H. Obama siap untuk memimpin perubahan. Slogan “Change We Believe In” tidak hanya menggema diseluruh Amerika Serikat, tapi gaungnya juga menghipnotis belahan lain di seluruh dunia.

Dengan gaya orasinya yang sangat memikat dan energinya yang nampak tidak pernah habis, jutaan orang di Amerika Serikat dan dibelahan lain di dunia ini terpikat dan terpesona oleh kemunculan seorang yang bernama Barack H. Obama, yang sesungguhnya untuk ukuran negara seperti Amerika Serikat adalah seorang anak baru dalam dunia politik Amerika Serikat yang sudah begitu mapan. Nyatanya, rakyat Amerika Serikat menaruh harapan besar dan percaya pada anak baru tersebut dibandingkan tokoh-tokoh kawakan yang mumpuni. Ternyata, bukan hanya rakyat Amerika Serikat yang menaruh harapan besar dan percaya pada seorang bernama Barack H. Obama, melainkan mereka yang juga berada di negara-negara lain, termasuk di Indonesia. Adanya ikatan historis, meskipun yang bersangkutan hanya sebentar saja mengenyam pendidikan sekolah dasar di Indonesia dan sesungguhnya dalam waktu yang teramat singkat seperti itu tidak banyak kesan dan memori yang diharapkan dari yang bersangkutan, menjadi salah satu faktor mengapa Barack Obama begitu populer dan disukai.

Kemenangan Obama pada pemilihan Presiden AS lalu bukan semata kemenangan Obama dan Partai Demokrat sendiri dan bukan pula semata kemenangan rakyat AS yang berhasil mengakhiri era kegagalan Bush dan Partai Republiknya di dalam memimpin dan mengelola negara adidaya tersebut. Kemenangan tersebut adalah kemenangan historis, etnis, budaya dan kemenangan bagi mereka yang memiliki harapan untuk berubah dan melakukan perubahan. Tanggal 20 Januari 2009 bukan hanya tanggal dimana seorang Barack H. Obama dilantik menjadi Presiden AS (ironis seorang yang piawai dalam berorasi dan memberikan inaugural speech yang begitu mempesona mesti mengulangi sumpah jabatannya), tetapi tanggal dimana sebuah sejarah terjadi. Dialah orang kulit hitam pertama (meskipun hanya setengahnya dan setengahnya lagi berkulit putih, dan sebuah fakta bahwa dia dilahirkan di Hawaii dan tidak pernah tinggal dinegeri bermayoritas kulit hitam) yang dipilih dan dilantik menjadi Presiden AS. Inilah kemenangan histories. Dan kemenangan etnisnya adalah bahwa kaum berkulit hitam di AS akhirnya mampu mewujudkan mimpinya untuk memiliki kesamaan hak dalam ranah politik AS dimana faktor etnis dan warna kulit bukan lagi menjadi masalah dalam kehidupan bernegara di sana, setelah selama ratusan tahun issue ras, warna kulit dan diskriminasi menghantui mereka yang berwarna kulit hitam. Sebuah event yang tidak dapat dilupakan dimana seorang berwarna hitam berdiri mengucapkan sumpah jabatannya untuk memimpin sebuah negara paling adidaya dimuka bumi ini.

Selain itu, tentu saja sosok Obama memiliki berbagai macam latar belakang budaya. Ayahnya adalah seorang asli Kenya, sebuah negara di Afrika dan tentu saja Obama memiliki ikatan budaya yang sangat kuat dengan tanah leluhurnya. Keluarga ibunya adalah keluarga berkulit putih yang tidak memiliki campuran kulit berwarna lain dan memiliki latar belakang budaya barat dan pacific yang kental. Ibunya menikah kembali dengan orang Indonesia dan karena pernikahan ini Obama kecil harus tinggal di Indonesia, sebuah negara yang sedang berkembang dengan budaya timurnya yang sangat kental serta berpenduduk mayoritas Islam. Dan belum pernah dalam sejarah panjang AS, seorang presidennya pernah menetap dan bermasyarakat di negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Belum pernah pula seorang presiden AS sebelumnya memiliki latar belakang budaya timur seperti Obama. Inilah kemenangan budaya.

Latar belakang ini yang menimbulkan harapan besar sebagian rakyat di negera-negara lain, khususnya dunia timur, pada sosok Barack Obama. Bagaimana dunia islam berharap Obama akan menjadi presiden yang lebih memahami Islam dan mampu bersikap objektif. Bagaimana pula rakyat di negara-negara lain berharap Obama akan memimpin AS tidak dengan arogansi seperti pendahulunya. Dan tentu saja, rakyat AS sendiri berharap Obama mampu menciptakan kemakmuran yang telah dirusak oleh pemerintahan Bush. “Change We Believe In” yang disuarakan Obama semakin menemukan relevansinya.

Masalahnya, dan mungkin inilah tantangan terbesar Obama yang bisa jadi menentukan apakah empat tahun lagi dia akan dipilih atau harus menyerahkan jabatannya kepada politisi lain, adalah negeri yang dipimpinnya tengah dilanda krisis ekonomi yang hebat. Sebagaimana yang dikatakan Joseph E. Stiglitz, Guru Besar Ekonomi pada Columbia University dan Peraih Hadiah Nobel Ekonomi, dalam tulisannya (terjemahan) berjudul “Pemulihan Ekonomi Setelah Kegagalan” yang dimuat dalam harian Koran Tempo, hari Senin tanggal 16 Maret 2009, bahwa Obama mewarisi ekonomi yang terjun bebas, dan tidak mungkin bisa mengubah segala sesuatu dalam waktu yang singkat sejak dilantik sebagai presiden.

Apa yang dikemukakan Stiglitz adalah realistis dan beralasan. Bagaimana mungkin seorang Obama, yang tentu saja bukanlah manusia yang memiliki kemampuan di segala bidang, yang tidak memiliki track record luar biasa dibidang ekonomi meskipun dia diback up oleh tim ekonomi yang mumpuni, sanggup memperbaiki kondisi dan mengakhiri krisis ekonomi dalam waktu cepat? Rasanya sangat realistis untuk tidak memberikan harapan besar bahwa Obama mampu menyelesaikan masalah di atas dalam waktu singkat. Saat ini saja sudah mulai ada pihak yang menyalahkan tim ekonomi Obama dalam menangani krisis ekonomi. Robert Geithner, Menteri Keuangan AS, dituding tidak transparan dan jelas dalam memaparkan program pemulihan ekonominya.

Harapan tentu saja masih harus ada dalam benak dan pikiran semua orang. Kita berharap Obama akan mampu menyelesaikan krisis ekonomi AS yang sudah berimbas ke seluruh dunia, sebab sebagaimana dikatakan Stiglitz, pemulihan ekonomi global membutuhkan ekonomi Amerika yang kuat. Bagaimana mungkin dia akan dapat melakukan perubahan fundamental jika fokus dan energinya tertuju semata-mata pada penyelesaian krisis yang ternyata diyakini banyak ekonom dunia adalah parah.

Sangat diharapkan sekali Obama mampu membangkitkan kembali semangat dan harapan rakyat AS dan rakyat di bagian lain dunia ini dalam menghadapi krisis ekonomi, pada saat dimana kita melihat banyak ekonom dunia bernada pesimis dan bahkan ada diantara mereka yang menunggu keajaiban untuk menyelesaikan krisis ekonomi global ini segera. Sangat diharapkan pula Obama mampu melahirkan kepercayaan kita semua bahwa dia sanggup menyelesaikan krisis ekonomi.

Harapan yang sempat membumbung tinggi itu seharusnya tidak sampai padam. Tinggal bagaimana Obama mampu menjawab krisis ekonomi sebagai tantangan terbesar dalam pemerintahannya. Bukankah pendahulunya memiliki tantangan-tantangan tersendiri. Seorang presiden AS dianggap besar bukan oleh seberapa besar rakyat memilihnya atau bagaimana latar belakangnya, tetapi bagaimana dia mampu menghadapi tantangan terbesar dalam masanya. Franklin D. Roosevelt tidak dianggap besar karena dia empat kali terpilih sebagai presiden (yang pada masa itu masih dimungkinkan dan belum dikeluarkan pembatasan sampai dua kali masa jabatan), tetapi bagaimana Roosevelt mampu membawa AS keluar dari krisis ekonomi yang parah dan memimpin AS dalam menghadapi Perang Dunia II, perang terbesar dalam sejarah umat manusia. Bill Clinton tidak diingat orang karena dua kali memenangi pemilihan presiden dengan suara yang sangat meyakinkan, tetapi rakyat mengingatnya karena dia memberikan kemakmuran tertinggi pasca Perang Dunia II dan memimpin AS sebagai pemimpin dunia yang relative diterima oleh negara-negara lain. Ronald Reagan dianggap besar bukan karena dia latar belakang dan popularitasnya di mata rakyat AS, tetapi bagaimana dia mampu menghadapi perang dingin yang senantiasa mengancam perang nuklir dan memimpin AS menjadi negara yang memiliki keunggulan teknologi di segala bidang. Dan Abraham Lincoln, yang juga berasal dari Illinois seperti Obama, bukan dianggap besar karena latar belakangnya, tetapi bagaimana dia mampu menghadapi perang sipil di AS, perbudakan dan diskriminasi rasial.

Saat ini Obama telah memenangi suara banyak rakyat AS. Dia memiliki dukungan dan mandat yang sangat besar bukan hanya untuk membawa perubahan sebagaimana dia janjikan, tetapi menyelesaikan krisis ekonomi saat ini. Masih tersisa cukup banyak waktu untuk melakukannya. Obama masih memiliki banyak energi yang tersimpan untuk itu. Ini bukan soal apakah dia akan terpilih kembali atau tidak empat tahun lagi, dan sejujurnya itu bukan urusan kebanyakan dari kita. Ini soal bagaimana sebuah tantangan, dan kita yakin ini adalah tantangan besar, mampu dijawab oleh Obama.

Tindakan dan kebijakan apapun yang diambil Obama tentu akan melahirkan implikasi dan dampak masing-masing. Paket stimulus yang dikeluarkannya yang jumlahnya sangat besar akan memberikan dampak pada perekonomian AS. Kita menunggu dampak apa yang terjadi. Ditengah keraguan beberapa orang bahwa paket stimulus tersebut adalah cara yang kurang efektif karena ditujukan untuk menutup pengurangan pajak, masih ada keyakinan bahwa paket tersebut mampu merangsang pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam. Tentu kita berkepentingan sebab sebagaimana yang dikatakan Stiglitz dunia membutuhkan ekonomi AS yang kuat untuk melakukan pemulihan global.

Untungnya, kita di Indonesia memiliki pemerintahan yang merasa optimis dalam menghadapi krisis global. Ini merupakan satu kunci tersendiri, sebab bagaimana kita akan dapat berharap pada suatu pemerintahan yang pesimis dalam menghadapi krisis ini. Kunci lain tentu saja bagaimana dan apa yang akan dilakukan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang tinggal menghitung hari untuk menghadapi pemilihan presiden.

Sumur uang mungkin mulai mengering, begitu juga mungkin optimisme dan harapan yang legendaris yang dimiliki rakyat Amerika itu, sungguh merupakan pendapat yang menakutkan karena itu dikemukakan oleh seorang ekonom sekaliber Joseph E. Stiglitz. Kita berharap Stiglitz tengah bercanda dengan ungkapannya itu. Tetapi, inilah tugas seorang Barack Obama untuk membangkitkan kembali optimisme dan harapan jutaan rakyat AS dan jutaan lainnya di bagian dunia lain. Dan bukankah sang pendukung Obama yang dukungannya dalam kampanye kemarin telah melambungkan nama Obama diatas Hillary Clinton telah memberikan impian indah akan sebuah harapan. Senator Edward M. Kennedy, sebuah nama yang sangat legendaris dan lama dikenal sebelum Obama sendiri lahir ke muka bumi ini, seorang icon liberal dan singanya partai Demokrat, politisi kawakan yang paling dikagumi dan disegani oleh kawan dan lawan, salah seorang legislator terbesar dalam sejarah panjang politik AS dan yang Obama sendiri mengakuinya sebagai rakasasa dalam sejarah politik AS, menegaskan dalam dukungannya untuk Obama, yang nampaknya dia mengutip kata-kata Presiden John F. Kennedy bahwa harapan itu tidak akan pernah mati.

Ditengah krisis global yang nyatanya parah ini, optimisme dan harapan harus tetap ada. Pesimisme sebagian dari kita memang mulai mencuat, keraguan sudah mulai berkembang, tetapi pemenang dari semua ini adalah mereka yang memiliki optimisme dan harapan. Dan Obama memiliki keyakinan dan niatan baik untuk mengajak kita bersama-sama menuju kemenangan. Keluar dari krisis global dan melakukan perubahan menuju ke arah yang lebih baik yang kita harapkan.


Jakarta, 16 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.